Yogyakarta, 21 Juni 2026 – Ancaman asbes terhadap kesehatan pekerja kembali menjadi perhatian serius berbagai organisasi masyarakat sipil, serikat pekerja, praktisi kesehatan, aktivis lingkungan hidup, hingga penyintas penyakit akibat asbes. Dalam kegiatan Konsolidasi INA-BAN (Indonesia Ban Asbestos Network) yang berlangsung pada 19–21 Juni 2026 di Yogyakarta, para peserta menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat gerakan penghapusan penyakit akibat asbes di Indonesia.
Asbes bukan sekadar persoalan lingkungan hidup, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan dan kesehatan pekerja di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, konstruksi, hingga pengelolaan limbah. Paparan serat asbes yang terhirup dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai penyakit serius seperti asbestosis, kanker paru-paru, dan mesothelioma, yang sering kali baru terdeteksi setelah puluhan tahun sejak paparan terjadi.
Berdasarkan data yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO), paparan asbes di tempat kerja diperkirakan menyebabkan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia. Angka tersebut mewakili lebih dari 70 persen kematian akibat kanker yang berhubungan dengan pekerjaan, menjadikan asbes sebagai salah satu faktor risiko kesehatan kerja paling mematikan di dunia.
Dalam forum konsolidasi tersebut, LION Indonesia bersama jaringan organisasi lintas sektor yang tergabung dalam INA-BAN melakukan evaluasi perkembangan advokasi sekaligus menyusun strategi bersama untuk memperkuat kampanye penghapusan penyakit akibat asbes. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, serta mempererat solidaritas antarorganisasi yang selama ini bekerja dalam isu kesehatan kerja dan perlindungan masyarakat dari bahaya asbes.
Peserta konsolidasi menekankan pentingnya peran gerakan akar rumput dalam memperluas edukasi kepada masyarakat dan pekerja mengenai risiko paparan asbes. Serikat pekerja dinilai memiliki posisi strategis dalam mengidentifikasi potensi paparan di tempat kerja serta mendorong penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja yang lebih baik.
Selain itu, keterlibatan organisasi kemanusiaan, kelompok penyintas, aktivis lingkungan, akademisi, dan tenaga kesehatan dianggap penting untuk memperkuat basis data, penelitian, serta pendampingan bagi korban penyakit akibat asbes. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya advokasi kebijakan menuju Indonesia yang bebas dari ancaman asbes.
Melalui konsolidasi ini, jaringan INA-BAN menegaskan kembali bahwa perlindungan terhadap pekerja dan masyarakat dari bahaya asbes merupakan bagian dari perjuangan mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkeadilan. Upaya edukasi publik, penguatan kapasitas organisasi, dokumentasi kasus, hingga dorongan perubahan regulasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan guna mengakhiri penyakit akibat asbes di Indonesia.
“Keselamatan dan kesehatan pekerja tidak boleh dikorbankan. Sudah saatnya Indonesia memperkuat langkah menuju penghapusan penyakit akibat asbes demi melindungi generasi sekarang dan masa depan,” menjadi salah satu semangat yang mengemuka dalam konsolidasi tersebut.











































































































































































































































































































































































































































































































