• September 10, 2026
  • Admin Official
  • 0

BEKASI — Ketika seorang pekerja harus memilih antara masuk kerja atau menjaga anak karena tidak memiliki pengasuh, persoalannya bukan lagi sekadar urusan keluarga. Bagi perusahaan, kondisi tersebut dapat berdampak pada tingkat kehadiran, konsentrasi, hingga produktivitas pekerja.

Persoalan inilah yang coba dijawab PUK SP KEP SPSI PT NOK Indonesia melalui kunjungan studi banding ke PT Omron Manufacturing Indonesia, Rabu (9/9/2026). Kunjungan tersebut secara khusus mempelajari penerapan fasilitas Tempat Penitipan Anak (daycare) yang telah berjalan di lingkungan PT Omron.

Bagi serikat pekerja, daycare bukan sekadar fasilitas tambahan bagi pekerja yang memiliki anak. Lebih jauh, fasilitas tersebut dipandang sebagai bagian dari dukungan perusahaan terhadap pekerja sekaligus investasi terhadap keberlangsungan produktivitas perusahaan.

Dari Persoalan Pengasuhan Menjadi Persoalan Produktivitas

Study banding yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB itu diikuti oleh rombongan dari unsur pekerja dan serikat pekerja PT NOK Indonesia. Mereka ingin melihat secara langsung bagaimana daycare dikelola dan bagaimana manfaatnya dirasakan oleh pekerja maupun perusahaan.

HR Departemen PT Omron Manufacturing Indonesia, Mohammad Herfin, menjelaskan bahwa daycare disediakan bagi seluruh pekerja sebagai salah satu upaya meningkatkan kehadiran pekerja.

Menurutnya, pekerja yang telah memiliki anak terkadang menghadapi persoalan pengasuhan yang membuat mereka tidak dapat masuk kerja karena harus mengurus kebutuhan keluarga.

Dengan demikian, fasilitas pengasuhan anak memiliki hubungan langsung dengan persoalan ketenagakerjaan. Ketika pekerja mendapatkan dukungan pengasuhan yang memadai, hambatan untuk hadir dan bekerja dapat dikurangi.

Di PT Omron, pengelolaan daycare dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Perusahaan juga memberikan dukungan aspek kesehatan dan keselamatan anak dengan melibatkan dokter spesialis anak dari jaringan asuransi perusahaan.

Belajar dari Praktik yang Sudah Berjalan

Bagi PUK SP KEP SPSI PT NOK Indonesia, pengalaman PT Omron menjadi referensi penting karena kebutuhan daycare juga menjadi salah satu aspirasi anggota yang ingin diperjuangkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Ketua PUK SP KEP SPSI PT NOK Indonesia, Edi Supriyanto, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan pihak PT Omron dan serikat pekerja di perusahaan tersebut.

Menurut Edi, kunjungan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran konkret mengenai pelaksanaan daycare sekaligus memperkuat argumentasi serikat pekerja dalam proses perundingan PKB.

Artinya, perjuangan fasilitas daycare tidak dibangun hanya berdasarkan asumsi atau tuntutan normatif. Serikat pekerja mencoba menghadirkan data, pengalaman, dan praktik nyata dari perusahaan lain yang telah menerapkannya.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan serikat pekerja tidak selalu harus dimulai dari meja aksi. Ada kalanya perjuangan dimulai dari belajar, membandingkan, membangun argumentasi, kemudian membawa hasil pembelajaran tersebut ke meja perundingan.

Daycare dan Masa Depan Pekerja Perempuan

Isu daycare juga memiliki dimensi yang lebih luas. Bagi pekerja yang memiliki tanggung jawab pengasuhan anak, terutama pekerja perempuan, persoalan fasilitas pengasuhan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlangsungan mereka di dunia kerja.

Karena itu, fasilitas daycare dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah terhadap pekerja dan keluarga.

Di sisi lain, perusahaan juga memiliki kepentingan untuk menjaga pekerja tetap hadir, fokus, dan produktif. Dalam konteks ini, kebutuhan pekerja dan kepentingan perusahaan tidak selalu harus dipertentangkan.

Daycare justru dapat menjadi titik temu antara kepentingan kesejahteraan pekerja dan kepentingan produktivitas perusahaan.

Belajar Hubungan Industrial di Meja yang Sama

Selain mempelajari fasilitas daycare, rombongan juga mengunjungi sekretariat serikat pekerja PT Omron. Ketua Unit Kerja SPEE FSPMI PT Omron, Jatmiko N., berbagi pengalaman mengenai aktivitas serikat pekerja serta dinamika hubungan industrial yang dibangun bersama perusahaan.

Pertukaran pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran bagi PUK SP KEP SPSI PT NOK Indonesia, terutama mengenai bagaimana serikat pekerja memperjuangkan kepentingan anggotanya sekaligus membangun komunikasi dalam hubungan industrial.

Pada akhirnya, kunjungan ini membawa satu pesan penting: memperjuangkan kesejahteraan pekerja tidak selalu berarti menambah beban perusahaan.

Justru dengan kebijakan yang tepat, fasilitas yang dibutuhkan pekerja dapat menjadi investasi bagi perusahaan untuk menjaga kehadiran, loyalitas, fokus, dan produktivitas tenaga kerja.

Bagi PUK SP KEP SPSI PT NOK Indonesia, hasil study banding tersebut diharapkan menjadi bekal untuk memperkuat perjuangan memasukkan fasilitas daycare ke dalam perundingan PKB.

Sebab bagi pekerja, bekerja bukan berarti harus memilih antara mencari nafkah dan memastikan anak mendapatkan pengasuhan yang layak.

Dan bagi perusahaan, menyediakan daycare bukan sekadar soal menyediakan tempat untuk menitipkan anak.

Ini adalah soal bagaimana dunia kerja bisa tumbuh bersama pekerja dan keluarganya.