• May 17, 2026
  • Admin Official
  • 0

Peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah oleh Prabowo Subianto menjadi momentum penting dalam sejarah perjuangan buruh Indonesia. Kehadiran negara dalam meresmikan museum tersebut dinilai bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjuangan kaum pekerja yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Wakil Presiden KSPSI sekaligus Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, R. Abdullah, yang turut hadir dalam acara tersebut menilai pidato Presiden Prabowo mengandung pesan kuat tentang keadilan sosial dan keberpihakan negara kepada rakyat pekerja. Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan rasa prihatin terhadap masa lalu ketika masih terjadi kekerasan terhadap pimpinan buruh demi kepentingan segelintir pengusaha yang mengejar keuntungan besar.

Menurut R. Abdullah, pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah kelam penindasan terhadap buruh tidak boleh lagi terjadi di Indonesia. Buruh bukan sekadar alat produksi, melainkan manusia yang memiliki hak, martabat, dan peran besar dalam pembangunan nasional.

Ketika Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kekeluargaan dan seluruh rakyat berhak atas kekayaan negeri ini, R. Abdullah menilai hal tersebut merupakan penegasan kembali cita-cita keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Negara harus hadir memastikan kesejahteraan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi juga dirasakan oleh kaum pekerja yang menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

R. Abdullah juga menyoroti pesan Presiden kepada aparat penegak hukum agar terus melakukan koreksi dan perbaikan diri. Pernyataan Presiden bahwa aparat tidak boleh menjadi “backing” penyelewengan dianggap sebagai pesan tegas bahwa budaya kolusi antara kekuasaan dan kepentingan kapital tidak boleh lagi mendapat ruang di negeri ini.

Menurutnya, hukum harus ditegakkan berdasarkan keadilan dan kebenaran, bukan tunduk kepada kepentingan modal maupun kekuasaan tertentu. Jika aparat benar-benar berdiri di atas kepentingan rakyat, maka kepercayaan masyarakat terhadap negara akan semakin kuat.

Peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah yang dilakukan pada pukul 10.00 WIB dengan mengucapkan “Bismillah” juga dipandang sebagai simbol harapan baru bagi gerakan buruh Indonesia. Museum tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh adalah bagian penting dari sejarah demokrasi dan perjuangan hak asasi manusia di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, R. Abdullah turut memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Andi Gani Nena Wea, Presiden KSPSI, dan Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri sekaligus Dewan Penasihat KSPSI yang dinilai sebagai inisiator berdirinya Museum dan Rumah Singgah Marsinah.

Menurut R. Abdullah, peran keduanya sangat besar dalam menjembatani perjuangan panjang hingga Marsinah diakui sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menghadirkan museum perjuangan sebagai simbol perlawanan dan keberanian kaum buruh Indonesia.

Di akhir pernyataannya, R. Abdullah berharap Museum dan Rumah Singgah Marsinah dapat menjadi tempat yang terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang. Bukan hanya sebagai tempat mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi para aktivis buruh untuk membangun semangat perjuangan, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan gerakan buruh Indonesia agar semakin maju, bermartabat, dan berkeadilan di masa depan. (pjr)