• May 20, 2026
  • Admin Official
  • 0

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini bukan sekadar mengenang lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo, tetapi juga merefleksikan kembali siapa kekuatan sosial yang hari ini menjadi penggerak perubahan bangsa. Pertanyaannya kemudian: di mana posisi gerakan buruh dalam agenda kebangkitan nasional Indonesia saat ini?

Jawabannya sederhana namun penting: gerakan buruh bukan sekadar bagian dari kebangkitan nasional, melainkan salah satu fondasi utamanya.

Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar. Ketimpangan ekonomi semakin nyata, biaya hidup meningkat, lapangan kerja rentan, gelombang PHK terus terjadi, sementara transformasi industri dan teknologi berjalan sangat cepat. Di sisi lain, negara sedang mendorong agenda hilirisasi, industrialisasi, transisi energi, dan pembangunan ekonomi nasional. Namun pembangunan sebesar apa pun tidak akan berarti apabila manusia yang menggerakkan roda produksi justru hidup dalam ketidakpastian.

Di sinilah posisi strategis gerakan buruh.

Gerakan buruh tidak lagi hanya berbicara soal upah. Perannya telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang memperjuangkan keadilan ekonomi, perlindungan sosial, demokrasi di tempat kerja, hingga masa depan pembangunan nasional yang berkeadilan. Buruh berada di garis depan produksi nasional: di pabrik, pelabuhan, logistik, perkebunan, tambang, energi, hingga sektor digital. Tanpa buruh, tidak ada pertumbuhan ekonomi. Tanpa buruh, tidak ada industrialisasi.

Namun ironisnya, dalam banyak kebijakan nasional, buruh sering kali masih diposisikan hanya sebagai objek pembangunan, bukan subjek utama pembangunan itu sendiri.

Padahal sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa gerakan buruh selalu hadir dalam momentum-momentum penting kebangsaan. Buruh pernah menjadi kekuatan anti-kolonial, penggerak demokrasi, hingga penjaga reformasi. Hari ini, gerakan buruh menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan kebangkitan nasional tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan sosial.

Kebangkitan nasional di era modern seharusnya dimaknai sebagai kebangkitan kualitas hidup rakyat pekerja. Negara tidak cukup hanya mengejar investasi dan angka pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan adanya pekerjaan layak, perlindungan jaminan sosial, kepastian hubungan kerja, kebebasan berserikat, serta transisi industri yang adil bagi pekerja.

Karena itu, gerakan buruh hari ini perlu mengambil posisi lebih strategis. Tidak hanya reaktif terhadap persoalan ketenagakerjaan, tetapi juga aktif menawarkan arah pembangunan nasional. Serikat pekerja harus hadir dalam diskusi tentang transisi energi, kecerdasan buatan, perdagangan global, hilirisasi industri, hingga reformasi jaminan sosial nasional. Buruh tidak boleh ditinggalkan dalam perubahan zaman.

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan kebangkitan nasional yang berpihak kepada rakyat pekerja. Kebangkitan yang tidak hanya membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga membangun martabat manusia yang bekerja di dalamnya.

Maka posisi gerakan buruh hari ini seharusnya jelas: bukan sekadar kelompok penuntut hak, tetapi mitra strategis bangsa dalam menciptakan Indonesia yang adil, berdaulat, dan sejahtera.

Sebab sesungguhnya, kebangkitan nasional tidak akan pernah benar-benar hidup apabila buruh masih tertinggal dalam pembangunan.