Bangkok, Thailand | 23 Oktober 2026
BANGKOK, THAILAND — Solidaritas internasional kembali menjadi kekuatan utama gerakan buruh dunia. Serikat pekerja sektor karet dan ban dari delapan negara berkumpul dalam pertemuan jaringan serikat pekerja yang diselenggarakan oleh IndustriALL Global Union di Bangkok, Thailand, pada 19–20 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut mempertemukan perwakilan serikat pekerja dari Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Brasil, Afrika Selatan, dan Liberia untuk membahas berbagai tantangan ketenagakerjaan yang semakin kompleks di tengah perubahan industri global.
Mulai dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan pabrik, membanjirnya produk impor murah, otomatisasi, digitalisasi, hingga lemahnya perlindungan hukum bagi pekerja menjadi perhatian utama dalam forum internasional tersebut.
Dalam pertemuan ini, para delegasi menegaskan pentingnya memperkuat pengorganisasian pekerja, meningkatkan kualitas perundingan kolektif, memperjuangkan lingkungan kerja yang aman, serta memperluas keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam kepemimpinan serikat pekerja.
CEMWU Indonesia Paparkan Perjuangan Melawan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja
Salah satu perhatian penting dalam pertemuan tersebut adalah kontribusi delegasi Indonesia melalui Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP KEP SPSI/CEMWU), yang menyampaikan perkembangan perjuangan perlindungan pekerja perempuan di lingkungan industri.
Dalam laporan yang dipublikasikan oleh IndustriALL Global Union pada 21 Oktober 2026, CEMWU mengungkapkan bahwa sebanyak 27 perusahaan bersama serikat pekerja telah menandatangani komitmen bersama untuk menerapkan toleransi nol terhadap kekerasan dan pelecehan seksual di dunia kerja.
Komitmen tersebut merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang aman, bermartabat, dan bebas dari berbagai bentuk diskriminasi serta kekerasan berbasis gender.
Selain itu, serikat pekerja CEMWU di pabrik Pirelli Indonesia juga telah membentuk rumah perlindungan bagi pekerja perempuan sebagai salah satu langkah nyata dalam memberikan dukungan kepada pekerja yang membutuhkan perlindungan.
Langkah tersebut menjadi contoh bagaimana serikat pekerja tidak hanya berperan dalam memperjuangkan upah dan kesejahteraan, tetapi juga hadir dalam memberikan perlindungan terhadap hak, keselamatan, dan martabat pekerja.
Meski demikian, tantangan kesetaraan gender masih menjadi pekerjaan besar. Berdasarkan laporan dalam pertemuan tersebut, pekerja perempuan baru mencakup sekitar 10 persen dari keanggotaan FSP KEP SPSI di sektor karet dan ban.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pengorganisasian yang lebih inklusif, termasuk membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan organisasi.
Industri Karet dan Ban Dunia Menghadapi Tekanan Serius
Pertemuan di Bangkok juga mengungkap berbagai persoalan yang dihadapi pekerja sektor karet dan ban di sejumlah negara.
Di Brasil, Federasi Nasional Pekerja Industri Karet, Ban, dan Lateks (FENABOR) melaporkan bahwa produk ban impor telah menguasai sekitar 73 persen pasar ban truk dan 67 persen pasar ban mobil. Kondisi tersebut mengancam sekitar 50.000 pekerjaan langsung.
Sementara itu, Afrika Selatan menghadapi penutupan empat pabrik ban sejak 2014. Pekerja yang masih bertahan harus menghadapi peningkatan beban kerja.
Di Malaysia, serikat pekerja sektor produk karet dilaporkan kehilangan lebih dari 3.000 anggota dalam tiga tahun akibat penutupan pabrik.
Indonesia juga menghadapi persoalan ketenagakerjaan yang tidak kalah serius. Dalam forum tersebut dilaporkan bahwa perjuangan serikat pekerja berhasil mendorong anak perusahaan Michelin, Multistrada, untuk menarik kembali rencana PHK terhadap 280 pekerja setelah berlangsungnya aksi protes. Namun, perselisihan tersebut masih berlanjut melalui proses pengadilan.
Berbagai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan di industri karet dan ban tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah satu perusahaan atau satu negara, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan solidaritas lintas batas.
IndustriALL: Transformasi Industri Tidak Boleh Mengorbankan Hak Pekerja
Direktur IndustriALL Global Union untuk sektor karet, Tom Grinter, menekankan pentingnya kekuatan jaringan serikat pekerja internasional dalam menghadapi perubahan industri.
Menurutnya, kerja sama dan aksi solidaritas yang telah dibangun serikat pekerja di kawasan Asia menjadi sumber kekuatan yang dapat memberikan inspirasi bagi gerakan pekerja di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, Sekretaris Regional IndustriALL, Ramon Certeza, mengingatkan bahwa perkembangan otomatisasi, digitalisasi, dan kendaraan listrik tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi hak-hak pekerja.
Ia menegaskan bahwa transformasi industri karet dan ban harus tetap menjamin pekerjaan yang layak, penghormatan terhadap hak pekerja, serta perlindungan terhadap martabat manusia.
Pesan tersebut sekaligus memperkuat pentingnya prinsip Just Transition atau transisi berkeadilan, yakni memastikan perubahan teknologi dan sistem produksi tidak meninggalkan pekerja sebagai pihak yang menanggung dampak paling besar.
Serikat Pekerja Thailand Tunjukkan Kekuatan Pengorganisasian
Dalam pertemuan tersebut, pengalaman serikat pekerja Thailand menjadi salah satu pembelajaran penting.
Meskipun Thailand belum meratifikasi Konvensi ILO Nomor 87 tentang kebebasan berserikat dan Konvensi ILO Nomor 98 tentang hak berorganisasi dan berunding bersama, serikat pekerja sektor karet di negara tersebut tetap mampu membangun kekuatan organisasi.
Presiden Rubber Workers Union Group of Thailand (RWUT), Saman Pornprachatham, menjelaskan bahwa kekuatan serikat pekerja terletak pada jumlah anggota, aktivitas organisasi, persatuan, dan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Para peserta juga melakukan kunjungan industri ke pabrik Goodyear Thailand di Pathum Thani.
Dalam kunjungan tersebut, manajemen perusahaan bersama Tire and Rubber Worker Union of Thailand memaparkan pengalaman membangun dialog sosial untuk menciptakan kondisi kerja yang lebih baik.
Solidaritas Internasional untuk Perjuangan Pekerja Indonesia
Isu perjuangan pekerja Indonesia kembali menjadi perhatian menjelang penutupan pertemuan.
Serikat pekerja Yokohama yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) melaporkan adanya pemberhentian terhadap sekretaris serikat pekerjanya, Muhammad Dimas Ekananda, ketika proses perundingan perjanjian kerja bersama sedang berlangsung.
Para pekerja dilaporkan tengah mempersiapkan aksi mogok kerja pada 28 Oktober 2026.
Kasus tersebut mendapatkan perhatian solidaritas dari jaringan serikat pekerja internasional sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kebebasan berserikat dan hak perundingan kolektif.
Solidaritas ini memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi pekerja Indonesia juga menjadi bagian dari perhatian gerakan buruh internasional.
Sepakati Penguatan Jaringan dan Pertemuan Lanjutan Tahun 2027
Menutup rangkaian kegiatan, para delegasi menyepakati sejumlah langkah strategis untuk memperkuat jaringan serikat pekerja sektor karet dan ban.
Kesepakatan tersebut mencakup pertukaran informasi mengenai perjanjian kerja bersama, standar keselamatan dan kesehatan kerja, serta data upah minimum di berbagai negara.
Para peserta juga akan menjajaki penyelenggaraan pelatihan daring mengenai kesetaraan gender, keselamatan dan kesehatan kerja, serta transisi berkeadilan.
Jaringan serikat pekerja internasional tersebut direncanakan untuk kembali bertemu di kawasan Asia-Pasifik pada 2027.
Bagi CEMWU Indonesia, hasil pertemuan ini menjadi bagian penting dari penguatan solidaritas internasional sekaligus pembelajaran dalam menghadapi tantangan hubungan industrial nasional.
Persatuan serikat pekerja lintas negara menjadi semakin penting ketika perusahaan multinasional, perubahan teknologi, dan dinamika perdagangan global memberikan tekanan terhadap keberlangsungan pekerjaan serta perlindungan hak-hak buruh.
Semangat yang mengemuka dari Bangkok menegaskan bahwa perjuangan pekerja di satu negara merupakan bagian dari perjuangan pekerja di seluruh dunia.
Ketika satu kelompok pekerja menghadapi ketidakadilan, solidaritas internasional harus hadir untuk memperkuat perjuangan mereka.
Sumber: https://www.industriall-union.org/





















































