BANGKOK, THAILAND, 20 Oktober 2026 — Pertemuan jaringan global serikat pekerja sektor karet dan ban yang diselenggarakan oleh IndustriALL Global Union di Bangkok, Thailand, memasuki hari kedua dengan semangat solidaritas internasional. Delegasi serikat pekerja dari Indonesia bersama tujuh negara lainnya mengikuti rangkaian diskusi mengenai masa depan industri, penguatan organisasi, serta perlindungan hak pekerja di tengah perubahan teknologi dan investasi global.

Kegiatan diawali dengan lagu dan tarian solidaritas yang mengajak seluruh peserta berdiri bersama, membangun semangat persatuan sebelum memasuki agenda pembahasan.

Suasana semakin meriah ketika delegasi dari Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Brasil, Afrika Selatan, dan Liberia secara bergantian meneriakkan slogan perjuangan serikat pekerja dari negara masing-masing.

Momentum tersebut mencerminkan kuatnya solidaritas gerakan pekerja internasional dalam menghadapi tantangan industri karet dan ban yang semakin kompleks.

Solidaritas Internasional Menjadi Kekuatan Gerakan Serikat Pekerja

Presiden Confederation of Industrial Labour of Thailand (CILT), Laray Youpensuk, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memperkuat persatuan dan membangun komunikasi secara berkelanjutan antarsesama organisasi pekerja.

“Hari ini kita perlu menyatukan kekuatan dan mengadakan pertemuan secara rutin. Itulah sebabnya kita berada di sini. Langkah ini akan membawa hasil yang baik bagi sektor kita,” ujar Laray Youpensuk.

Menurutnya, pertemuan jaringan internasional menjadi sarana penting untuk memperkuat kerja sama, bertukar pengalaman, dan membangun strategi bersama dalam memperjuangkan kepentingan pekerja.

Sementara itu, Tom Grinter, yang memimpin pekerjaan IndustriALL di sektor karet, menekankan bahwa berbagai tantangan yang dihadapi serikat pekerja harus dianalisis dan dihadapi melalui persatuan.

“Ada perjuangan, ada tantangan yang akan kita analisis, tetapi tujuan utamanya adalah tetap bersama,” tegas Grinter.

Pesan tersebut menegaskan bahwa solidaritas internasional bukan sekadar simbol persatuan, melainkan fondasi untuk membangun kekuatan kolektif dalam menghadapi perusahaan multinasional dan perubahan struktur industri global.

Industri Karet dan Ban Dunia Bergeser ke Asia-Pasifik

Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah perubahan peta industri karet dan ban dunia.

Tom Grinter menjelaskan bahwa lapangan kerja sektor karet dan ban mengalami penyusutan di Eropa Barat dan Amerika Utara, sementara pertumbuhan industri dan investasi semakin terkonsentrasi di kawasan Asia-Pasifik.

“Semakin banyak perhatian tertuju kepada kalian di Asia-Pasifik karena kawasan ini merupakan wilayah yang terus bertumbuh,” ujar Grinter kepada para peserta.

Perubahan tersebut memperlihatkan semakin strategisnya posisi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dalam rantai pasok industri karet dan ban global.

Dalam paparannya, Grinter juga menyoroti penutupan sejumlah fasilitas produksi di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika, bersamaan dengan mengalirnya investasi baru ke kawasan Asia.

Thailand disebut menghasilkan sekitar 34 persen produksi karet alam dunia, dengan sebagian besar pasokannya berasal dari perkebunan keluarga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa industri karet dan ban tidak hanya berkaitan dengan pekerja pabrik, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan petani karet, rantai pasok bahan baku, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Otomatisasi, Digitalisasi, dan Kendaraan Listrik Jadi Tantangan Baru

Perubahan teknologi menjadi perhatian penting dalam diskusi jaringan global tersebut.

Otomatisasi proses produksi, digitalisasi industri, serta meningkatnya penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) dinilai akan mengubah kebutuhan tenaga kerja, proses produksi ban, dan keterampilan yang dibutuhkan pekerja.

Transformasi tersebut dapat menciptakan peluang baru bagi industri, tetapi juga menimbulkan tantangan terhadap keberlangsungan pekerjaan dan perlindungan tenaga kerja.

Sekretaris Regional IndustriALL untuk Asia Tenggara, Ramon Certeza, menegaskan bahwa perubahan industri tidak boleh mengorbankan kepentingan pekerja.

“Transformasi industri karet dan ban tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hak-hak pekerja, pekerjaan yang layak, dan martabat pekerja,” tegas Certeza.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan perlindungan hak pekerja.

Dalam konteks ini, serikat pekerja memiliki peran strategis untuk memastikan pekerja memperoleh kesempatan peningkatan keterampilan, perlindungan terhadap risiko kehilangan pekerjaan, serta keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada masa depan pekerjaan.

Transformasi industri juga perlu diarahkan pada prinsip transisi yang berkeadilan (just transition), yaitu perubahan menuju sistem produksi yang lebih maju dan berkelanjutan tanpa meninggalkan kepentingan pekerja.

Serikat Pekerja Harus Hadir di Setiap Investasi Baru

Tom Grinter juga menyampaikan pesan penting mengenai investasi dan pembangunan fasilitas produksi baru di berbagai negara.

Menurutnya, di mana pun pabrik baru dibangun, pekerja harus mendapatkan akses untuk membentuk dan bergabung dengan serikat pekerja, serta memperoleh standar kerja yang layak tanpa memandang siapa pemilik perusahaan tersebut.

Pesan ini menjadi sangat relevan ketika perusahaan multinasional melakukan relokasi produksi atau memperluas investasi ke negara-negara dengan pertumbuhan industri yang tinggi.

Investasi baru seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas, memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta menjamin kebebasan berserikat dan hak perundingan kolektif.

Karena itu, pengorganisasian pekerja di perusahaan baru menjadi salah satu agenda penting jaringan serikat pekerja internasional.

Perkuat Perundingan Kolektif, K3, dan Kepemimpinan Pekerja Muda

Pertemuan jaringan global IndustriALL juga membahas laporan perkembangan perjuangan serikat pekerja dari berbagai negara.

Agenda pembahasan meliputi penguatan pengorganisasian, peningkatan kualitas perundingan kolektif, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Selain itu, peningkatan keterlibatan perempuan dan pekerja muda dalam kepemimpinan organisasi menjadi perhatian khusus.

Regenerasi kepemimpinan dipandang penting untuk memastikan keberlanjutan gerakan serikat pekerja di tengah perubahan demografi tenaga kerja dan perkembangan teknologi.

Keterlibatan perempuan juga perlu diperkuat agar kebijakan dan perjuangan organisasi mampu menjawab kebutuhan seluruh pekerja secara lebih inklusif.

Melalui pertemuan ini, jaringan serikat pekerja diharapkan dapat menyepakati komitmen bersama untuk memperkuat perjuangan dan solidaritas lintas negara.

IndustriALL Sampaikan Solidaritas kepada Pekerja Yokohama di Meksiko

Di tengah rangkaian pembahasan, jaringan serikat pekerja karet dan ban IndustriALL turut menyampaikan pesan solidaritas kepada pekerja Yokohama di Meksiko.

Solidaritas tersebut disampaikan menyusul laporan mengenai pemberhentian tiga perwakilan serikat pekerja di perusahaan tersebut.

Kasus yang dilaporkan itu menjadi perhatian jaringan internasional karena berkaitan dengan pentingnya perlindungan terhadap perwakilan pekerja dan kebebasan berserikat.

Dukungan lintas negara ini sekaligus memperlihatkan peran jaringan serikat pekerja global dalam membangun solidaritas ketika pekerja menghadapi persoalan hubungan industrial.

Kehadiran Indonesia Menjadi Bagian Penting Solidaritas Global

Partisipasi delegasi Indonesia dalam pertemuan IndustriALL di Bangkok menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan organisasi pekerja dari berbagai negara serta memperoleh informasi mengenai perkembangan industri karet dan ban global.

Bagi gerakan serikat pekerja Indonesia, isu otomatisasi, digitalisasi, perubahan investasi, perlindungan K3, dan penguatan perundingan kolektif merupakan agenda yang semakin penting untuk diperjuangkan.

Pengalaman berbagai negara dapat menjadi pembelajaran dalam menyusun strategi organisasi untuk menghadapi perubahan industri, sekaligus memperkuat posisi tawar pekerja.

Kemajuan industri tidak boleh hanya diukur dari meningkatnya investasi, produktivitas, dan keuntungan perusahaan. Keberhasilan transformasi industri juga harus diukur dari sejauh mana hak pekerja terlindungi, pekerjaan yang layak tersedia, dan kesejahteraan pekerja meningkat.

Pertemuan jaringan global IndustriALL di Bangkok menegaskan bahwa masa depan industri karet dan ban harus dibangun melalui solidaritas internasional, penguatan serikat pekerja, dialog sosial, serta penghormatan terhadap hak dan martabat pekerja.

Solidaritas pekerja lintas negara menjadi kekuatan untuk memastikan bahwa di tengah perubahan industri global, tidak ada pekerja yang ditinggalkan.

Sumber: IndustriALL Global Union.