130 aktivis serikat pekerja dari berbagai negara membahas penguatan pengorganisasian, strategi Ground Campaign dan Air Campaign, serta perluasan perlindungan pekerja di sektor industri masa depan.

KUALA LUMPUR, MALAYSIA, 8-9 Oktober 2026 — Sekitar 130 aktivis dan perwakilan serikat pekerja dari berbagai negara berkumpul di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam Konferensi Pengorganisasian Serikat Pekerja pertama yang diselenggarakan oleh IndustriALL Global Union. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi gerakan serikat pekerja internasional untuk merumuskan strategi untuk membangun kekuatan organisasi di tengah perubahan ekonomi global, meningkatnya dominasi korporasi multinasional, serta tantangan terhadap kebebasan berserikat.

Konferensi yang berlangsung dalam rangkaian pertemuan IndustriALL di Kuala Lumpur tersebut mengangkat pertanyaan mendasar: bagaimana serikat pekerja dapat membangun kekuatan yang berkelanjutan di tengah perubahan struktur industri, perkembangan teknologi, transisi energi, dan semakin kompleksnya hubungan kerja global?

Pembahasan tidak hanya berfokus pada penguatan keanggotaan serikat pekerja, tetapi juga pengembangan strategi pengorganisasian yang mampu menjangkau pekerja perempuan, pekerja muda, pekerja migran, pekerja kerah putih, hingga pekerja dalam hubungan kerja tidak tetap dan rantai pasok industri global.

Penurunan Keanggotaan Serikat Pekerja dan Ketimpangan Kekayaan Global

Dalam pemaparannya, Asisten Sekretaris Jenderal IndustriALL Global Union, Kan Matsuzaki, menegaskan bahwa pengorganisasian pekerja merupakan kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda.

Matsuzaki memaparkan bahwa tingkat kepadatan keanggotaan serikat pekerja (union density) di negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah menurun hingga sekitar separuh dibandingkan dengan tahun 1985.

Pada saat yang sama, kelompok 10 persen penduduk terkaya disebut menguasai sekitar 75 persen kekayaan dunia.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan kekuatan ekonomi yang semakin besar antara pemilik modal dan pekerja.

Penurunan tingkat keanggotaan serikat pekerja berpotensi melemahkan posisi tawar pekerja dalam memperjuangkan upah layak, perlindungan sosial, keselamatan kerja, dan kondisi kerja yang manusiawi.

Karena itu, IndustriALL menempatkan pengorganisasian sebagai salah satu prioritas strategis untuk membangun kembali kekuatan kolektif pekerja di berbagai sektor industri.

Melalui dana kampanye dan pengorganisasian yang baru dikembangkan, IndustriALL mendukung sejumlah proyek strategis, termasuk pengorganisasian pekerja pada rantai pasok baterai di Indonesia dan industri semikonduktor di Malaysia.

Program tersebut diarahkan untuk membangun organisasi pekerja yang tidak hanya berkembang secara jumlah anggota, tetapi juga memiliki kekuatan yang bertahan dalam jangka panjang.

Membangun Kekuatan Serikat Pekerja melalui Ground Campaign dan Air Campaign

Salah satu pembahasan utama konferensi adalah pengembangan dua pendekatan pengorganisasian yang saling melengkapi, yakni Ground Campaign dan Air Campaign.

Diskusi ini menghadirkan Claudia Rahman dari IG Metall Jerman, Evi Krisnawati dari FARKES Indonesia, serta konsultan pengorganisasian IndustriALL, Aaron Chapelle.

Para pembicara mengeksplorasi bagaimana membangun gerakan serikat pekerja yang inklusif, beragam, dan berkelanjutan dengan menggabungkan kekuatan pekerja di tempat kerja dan tekanan terhadap perusahaan dari luar.

Ground Campaign merupakan strategi pengorganisasian yang berfokus pada pembangunan kekuatan pekerja secara langsung di tempat kerja. Pendekatan ini dilakukan melalui komunikasi antarpekerja, perekrutan anggota, identifikasi pemimpin informal, pembentukan komite pengorganisasian, pendidikan kader, serta mobilisasi tindakan kolektif.

Sementara itu, Air Campaign merupakan strategi membangun tekanan eksternal terhadap perusahaan melalui jaringan solidaritas internasional, instrumen hukum dan standar ketenagakerjaan global, riset korporasi, lembaga keuangan, serta komunikasi publik.

Kedua pendekatan tersebut dipandang sebagai satu kesatuan strategi yang harus dijalankan secara terintegrasi.

Pengorganisasian di tempat kerja membangun fondasi kekuatan pekerja, sedangkan kampanye eksternal memperluas tekanan terhadap perusahaan, terutama ketika keputusan bisnis ditentukan oleh kantor pusat korporasi multinasional di luar negeri.

Pengorganisasian Dimulai dari Percakapan: Kemarahan, Harapan, dan Tindakan

Konferensi juga menekankan bahwa pengorganisasian pekerja pada dasarnya dimulai dari sebuah percakapan.

Dalam pendekatan yang dibahas, percakapan pengorganisasian memiliki tiga tahapan penting, yaitu Anger, Hope, Action atau kemarahan, harapan, dan tindakan.

Tahap pertama adalah mendengarkan pengalaman pekerja serta memahami persoalan yang menimbulkan kemarahan atau ketidakpuasan terhadap kondisi kerja.

Tahap kedua adalah membangun harapan dengan memperlihatkan bahwa persoalan tersebut dapat diperjuangkan secara kolektif melalui serikat pekerja.

Tahap ketiga adalah mengajak pekerja mengambil tindakan nyata, mulai dari bergabung dalam organisasi, membangun solidaritas, hingga terlibat dalam perjuangan bersama.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kemarahan tanpa harapan dapat melahirkan keputusasaan, sementara harapan tanpa tindakan tidak akan menghasilkan perubahan.

Pengorganisasian bukan sekadar mengajak pekerja menjadi anggota serikat, tetapi juga membangun kesadaran bahwa perubahan hanya dapat dicapai melalui kekuatan kolektif.

Model Fish Tank: Membangun Organisasi Sebelum Melakukan Kampanye Terbuka

Dalam konferensi tersebut turut diperkenalkan model pengorganisasian yang disebut Fish Tank.

Model ini menggambarkan proses pengorganisasian yang dimulai dari tahapan tidak terlihat atau quiet phase, sebelum berkembang menjadi kampanye terbuka.

Pada tahap awal, organizer melakukan kontak dengan pekerja, mengidentifikasi calon pemimpin, merekrut anggota, serta membentuk dan melatih komite pengorganisasian.

Proses ini dilakukan secara sistematis untuk memastikan bahwa pekerja memiliki kesiapan organisasi sebelum menghadapi tekanan perusahaan.

Setelah fondasi organisasi terbentuk dengan kuat, kampanye memasuki tahap terbuka melalui pengumpulan kartu dukungan, pemungutan suara jika diperlukan, serta tindakan kolektif pekerja.

Pada tahap tersebut, kampanye di tempat kerja dapat diperkuat melalui tekanan eksternal terhadap perusahaan.

Tujuan akhirnya adalah membangun pengakuan terhadap serikat pekerja dan memperjuangkan perundingan kolektif yang menghasilkan perjanjian kerja bersama.

Namun, konferensi juga menggarisbawahi satu persoalan mendasar yang sering menentukan keberhasilan pengorganisasian, yaitu bagaimana serikat pekerja memperoleh akses untuk menjangkau dan berkomunikasi dengan pekerja.

Sektor Industri Masa Depan Menjadi Prioritas Pengorganisasian

Para peserta konferensi membahas pentingnya menentukan sektor-sektor strategis yang memiliki potensi besar untuk memperkuat gerakan serikat pekerja.

Sektor tersebut meliputi industri baterai kendaraan listrik, mineral kritis, semikonduktor, energi terbarukan, serta industri tradisional yang masih menyerap banyak tenaga kerja.

Perubahan struktur ekonomi global menuntut serikat pekerja untuk tidak hanya mempertahankan kekuatan di sektor industri yang sudah terorganisasi, tetapi juga memperluas jangkauan ke industri-industri baru.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok pekerja yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau oleh organisasi serikat pekerja, termasuk perempuan, pekerja muda, pekerja migran, dan pekerja kerah putih.

Kondisi Pekerja Tambang Kobalt di Republik Demokratik Kongo

Placide Adrupiako Minota dari TUMEC memaparkan kondisi pekerja tambang kobalt di Republik Demokratik Kongo.

Kobalt merupakan salah satu mineral penting dalam rantai pasok teknologi global, termasuk baterai untuk perangkat elektronik dan kendaraan listrik.

Namun, di balik meningkatnya permintaan mineral tersebut, para pekerja menghadapi berbagai persoalan serius.

Menurut pemaparan Minota, persoalan yang ditemukan meliputi tidak tersedianya alat pelindung diri, tidak diterapkannya upah minimum resmi yang berada di kisaran 9,30 dolar AS per hari, lembur yang tidak dibayar, serta praktik subkontrak yang meluas.

Menghadapi kondisi tersebut, TUMEC berupaya mendorong pemerintah menegakkan peraturan ketenagakerjaan, memperjuangkan perjanjian kerja bersama bagi pekerja tambang, serta mengorganisasi pekerja tambang rakyat dan pekerja subkontrak.

Singapura dan Pengorganisasian Industri Semikonduktor

Sin Hing Mun dari UWEEI Singapura menjelaskan pentingnya industri semikonduktor sebagai salah satu sektor strategis dalam pengorganisasian pekerja.

Industri ini memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi global dan menjadi bagian dari rantai pasok elektronik internasional.

Oleh karena itu, penguatan serikat pekerja di sektor semikonduktor dinilai penting agar perkembangan teknologi dan pertumbuhan industri juga memberikan manfaat bagi pekerja.

Prancis, Türkiye, dan Afrika Selatan: Memperluas Pengorganisasian Pekerja Kerah Putih

Corinne Schewin dari CFE-CGC Prancis menekankan perlunya strategi khusus untuk mengorganisasi pekerja kerah putih (white-collar workers).

Di sejumlah negara, ketentuan organisasi serikat pekerja bahkan masih membatasi ruang keanggotaan bagi kelompok pekerja tertentu.

Namun, perkembangan positif mulai terlihat.

Di Türkiye, putusan pengadilan membuka peluang bagi Lastik-İş untuk melakukan perundingan bagi pekerja kerah putih di sektor industri ban.

Sementara di Afrika Selatan, NUMSA memperluas cakupan pengorganisasiannya kepada teknisi, insinyur, dan pekerja teknologi informasi dan komunikasi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa serikat pekerja perlu menyesuaikan strategi dan struktur organisasinya dengan perubahan komposisi tenaga kerja.

India: Tantangan Pengorganisasian Industri Garmen

Dithhi Battarcharya dari Unions United India membagikan pengalaman panjang pengorganisasian pekerja garmen di Bangalore selama sekitar dua dekade.

Serikat pekerja berhasil membangun kekuatan di kalangan pekerja generasi pertama yang memasuki sektor industri.

Namun, perpindahan kegiatan produksi ke wilayah pedesaan menghadirkan tantangan baru.

Banyak pekerja di lokasi baru belum mengenal serikat pekerja maupun konsep perjuangan kolektif.

Akibatnya, proses pengorganisasian harus dimulai kembali dari pendidikan dasar mengenai apa itu serikat pekerja, mengapa pekerja perlu berorganisasi, dan bagaimana solidaritas dibangun.

Tantangan semakin berat karena perusahaan berkembang menjadi lebih besar dan memiliki kekuatan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan ketika industri masih didominasi pabrik-pabrik kecil.

Kamboja: Menggabungkan Pendekatan Langsung dan Media Digital

Ravy Heng dari CWLFU Kamboja menjelaskan strategi serikat pekerja dalam menjangkau pekerja melalui pendekatan langsung maupun teknologi komunikasi.

Organizer mengunjungi pekerja secara langsung dan membagikan kartu informasi yang menjelaskan fungsi serta manfaat serikat pekerja.

Selain itu, Telegram, Facebook, dan WhatsApp dimanfaatkan untuk memberikan konsultasi hukum, informasi, serta dukungan kepada pekerja muda.

Ketika terjadi perselisihan hubungan industrial, serikat pekerja terlebih dahulu menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa nasional.

Apabila upaya tersebut belum memberikan hasil, dukungan solidaritas internasional melalui IndustriALL dan tekanan terhadap merek global yang membeli produk dari pabrik-pabrik Kamboja menjadi bagian dari strategi perjuangan.

Indonesia: Pengorganisasian Pekerja Rantai Pasok Baterai Melalui Pendekatan Komunitas

Pengalaman Indonesia menjadi salah satu studi kasus penting dalam konferensi tersebut.

Eko Purwantoro dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) memaparkan strategi pengorganisasian pekerja di rantai pasok industri baterai yang sebagian lokasi industrinya berada di wilayah terpencil.

Kondisi geografis dan sosial tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi serikat pekerja dalam menjangkau pekerja.

SPN mengembangkan pendekatan berbasis komunitas lokal dengan memanfaatkan hubungan sosial dan ikatan masyarakat setempat yang kuat.

Melalui pendekatan tersebut, serikat pekerja berhasil membangun kepercayaan dan memperluas keanggotaan.

Pekerja tertarik bergabung karena organisasi mampu memberikan pembelaan dalam perselisihan hubungan industrial serta melakukan perundingan dengan manajemen perusahaan.

Keberhasilan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab baru.

Semakin banyak pekerja bergabung, semakin besar pula kebutuhan organisasi untuk menangani pengaduan, perselisihan, dan berbagai persoalan hubungan industrial.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberhasilan pengorganisasian tidak cukup diukur dari pertambahan anggota, tetapi juga kemampuan organisasi memberikan perlindungan dan pelayanan yang berkelanjutan.

Hungaria: Membangun Dialog Sosial di Industri Baterai

Székely Tamás dari VDSZ, Federasi Pekerja Kimia Hungaria, menjelaskan perkembangan industri baterai di negaranya dalam enam tahun terakhir.

Menurut pemaparannya, sejumlah pabrik baterai menghadapi persoalan kondisi kerja yang buruk, tingginya tingkat pergantian pekerja, serta terbatasnya representasi serikat pekerja dan dialog sosial.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, VDSZ bergabung dalam proyek bersama IndustriALL dan industriAll European Trade Union yang mencakup lima negara.

Program tersebut bertujuan memperkuat organisasi serikat pekerja dan membangun dialog sosial yang efektif dalam industri baterai.

Zimbabwe: Pengorganisasian Harus Menjadi Jantung Gerakan Serikat Pekerja

Sekretaris Jenderal ZDAMWU Zimbabwe, Justice Chinhema, mengungkapkan tantangan pengorganisasian di perusahaan pertambangan milik investor Tiongkok serta di kalangan pekerja informal.

Menghadapi tantangan tersebut, ZDAMWU menempatkan pengorganisasian sebagai inti dari seluruh aktivitas organisasi.

Chinhema menegaskan bahwa seluruh kegiatan serikat pekerja harus berorientasi pada pembangunan kekuatan anggota.

Ia juga menyampaikan prinsip kepemimpinan yang menempatkan sekretaris jenderal sebagai pengorganisasi utama dalam organisasi.

Pandangan tersebut mempertegas bahwa pengorganisasian bukan hanya tugas departemen atau bidang tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh struktur kepemimpinan serikat pekerja.

India: Transformasi Industri Pembongkaran Kapal

Vidyadhar Rane dari Alang Sosiya Ship Recycling & General Workers’ Association, yang diperkenalkan sebagai serikat pekerja pembongkaran kapal pertama yang memperoleh pengakuan di India, turut membagikan perjalanan perjuangan organisasinya.

Pengalaman tersebut mengangkat transformasi industri pembongkaran kapal melalui gagasan Graveyard to Greenyard, yakni perubahan menuju praktik industri yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Studi kasus ini memperlihatkan pentingnya kehadiran serikat pekerja dalam mendorong perubahan kondisi kerja pada industri yang memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja tinggi.

Air Campaign: Menggunakan Instrumen Internasional untuk Menekan Perusahaan

Sebagai kelanjutan pembahasan pengorganisasian di tempat kerja, konferensi juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan strategi Air Campaign.

Dalam sesi tersebut, peserta mendalami berbagai instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi praktik pemberangusan serikat pekerja lintas negara.

Pembahasan mencakup Konvensi ILO, mekanisme pengaduan berdasarkan Pedoman OECD bagi Perusahaan Multinasional, serta standar internasional mengenai pertambangan dan industri baterai yang bertanggung jawab.

Selain itu, peserta membahas pemanfaatan Global Framework Agreements (GFA), dewan pekerja tingkat Eropa dan global, serta jaringan serikat pekerja di perusahaan multinasional.

Instrumen tersebut dapat digunakan untuk memperkuat koordinasi dan solidaritas pekerja ketika menghadapi perusahaan yang memiliki jaringan operasi di berbagai negara.

Konferensi juga menyoroti pentingnya strategic corporate research atau riset strategis korporasi.

Melalui riset tersebut, serikat pekerja dapat memetakan struktur kepemilikan perusahaan, sumber pembiayaan, hubungan investasi, serta jaringan rantai pasok untuk menentukan titik-titik tekanan yang efektif.

Strategi modal (capital strategies) dan mekanisme lembaga keuangan internasional juga dibahas sebagai bagian dari upaya mendorong perusahaan menghormati hak-hak pekerja.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah penerapan Human Rights Due Diligence atau uji tuntas hak asasi manusia serta pengembangan perjanjian global yang mengikat, termasuk pembelajaran dari perjanjian di Kamboja.

Tidak kalah penting, komunikasi strategis ditempatkan sebagai alat untuk membangun narasi perjuangan, memperluas dukungan publik, serta meningkatkan tekanan terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran hak pekerja.

Dengan pendekatan tersebut, serikat pekerja diharapkan tidak hanya mampu mengorganisasi pekerja dari dalam perusahaan, tetapi juga memanfaatkan kekuatan jaringan internasional untuk memperjuangkan perubahan.

Pelajaran Strategis bagi Gerakan Serikat Pekerja Indonesia

Konferensi IndustriALL di Kuala Lumpur memberikan sejumlah pembelajaran penting bagi gerakan serikat pekerja Indonesia, termasuk FSP KEP SPSI yang memiliki basis organisasi di sektor kimia, energi, dan pertambangan.

Transformasi industri global, pertumbuhan industri baterai, pengembangan mineral kritis, serta transisi energi menghadirkan peluang ekonomi sekaligus tantangan baru terhadap perlindungan hak-hak pekerja.

Dalam situasi tersebut, serikat pekerja dituntut untuk mengembangkan strategi pengorganisasian yang lebih adaptif, sistematis, dan berbasis kebutuhan pekerja.

Penguatan organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui perekrutan anggota baru, tetapi juga harus diikuti pendidikan kader, pembentukan pemimpin di tempat kerja, penguatan kemampuan perundingan kolektif, dan peningkatan kapasitas advokasi.

Serikat pekerja juga perlu memperluas jangkauan kepada pekerja yang selama ini belum terorganisasi, termasuk pekerja kontrak, pekerja alih daya, pekerja muda, perempuan, pekerja migran, serta tenaga teknis dan profesional.

Di sisi lain, kemampuan memahami struktur korporasi multinasional, memanfaatkan instrumen ILO, membangun jaringan solidaritas internasional, dan mengembangkan komunikasi strategis menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

Bagi sektor kimia, energi, dan pertambangan, strategi tersebut memiliki relevansi khusus karena banyak perusahaan beroperasi dalam jaringan produksi, investasi, dan rantai pasok internasional.

Karena itu, pengorganisasian pekerja harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam membangun serikat pekerja yang kuat, mandiri, demokratis, serta mampu menghadapi perubahan dunia industri.

Membangun Serikat Pekerja yang Kuat, Bukan Sekadar Banyak Anggota

Rangkaian konferensi IndustriALL di Kuala Lumpur menegaskan bahwa masa depan gerakan serikat pekerja sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun kekuatan kolektif yang nyata.

Jumlah anggota yang besar merupakan modal penting, tetapi kekuatan organisasi juga ditentukan oleh kesadaran anggota, keberanian bertindak, solidaritas, kemampuan kepemimpinan, serta keberhasilan memperjuangkan kepentingan pekerja.

Pengorganisasian harus menjadi proses yang terus berlangsung, bukan sekadar kegiatan perekrutan sesaat.

Dari percakapan sederhana di tempat kerja, pembentukan komite pengorganisasian, hingga pengembangan kampanye internasional, seluruh tahapan tersebut merupakan bagian dari pembangunan kekuatan pekerja.

Pesan utama konferensi ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan ekonomi global: serikat pekerja harus mampu mengorganisasi pekerja di tempat kerja sekaligus membangun tekanan terhadap perusahaan melalui solidaritas lintas negara.

Ground Campaign membangun kekuatan dari dalam, sedangkan Air Campaign memperluas daya tekan dari luar. Keduanya diperlukan untuk memastikan bahwa pekerja tidak hanya menjadi bagian dari perubahan ekonomi, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menentukan arah perubahan tersebut.

Sebab masa depan dunia kerja yang adil tidak akan lahir dengan sendirinya. Masa depan itu harus diperjuangkan melalui kesadaran, pengorganisasian, solidaritas, dan tindakan kolektif pekerja.

Sumber: IndustriALL Global Union