Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional sebagai momentum untuk menghargai kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan ketenagakerjaan. Peringatan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sejarah panjang perjuangan perempuan pekerja yang menuntut keadilan di tempat kerja.

Hari Perempuan Internasional berakar dari gerakan buruh perempuan pada awal abad ke-20 yang memprotes kondisi kerja tidak manusiawi, upah yang rendah, serta jam kerja yang panjang. Aksi-aksi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan kesetaraan gender di dunia kerja.

Pada tahun 2026, peringatan ini kembali menjadi pengingat penting bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengangkat tema “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls”, yang menegaskan perlunya tindakan nyata untuk memastikan hak, keadilan, dan kesempatan yang setara bagi seluruh perempuan dan anak perempuan.

Namun jika kita menengok lebih dekat pada dunia kerja, terutama di sektor industri, ada satu arena perjuangan yang sering luput dari perhatian: perjuangan perempuan dalam serikat pekerja.

Perempuan dalam Gerakan Buruh

Serikat pekerja sering dipersepsikan sebagai ruang perjuangan yang keras, penuh konflik industrial, dan didominasi laki-laki. Namun dalam realitasnya, banyak perempuan yang berdiri di garis depan perjuangan buruh.

Perempuan pekerja bukan hanya menjadi anggota serikat, tetapi juga:

  1. penggerak advokasi hak pekerja perempuan
  2. pendidik organisasi bagi anggota baru
  3. pengorganisir aksi solidaritas
  4. bahkan pemimpin dalam struktur serikat

Mereka memperjuangkan isu-isu yang sering tidak terlihat, seperti:

  1. perlindungan maternitas
  2. cuti haid dan cuti melahirkan
  3. perlindungan dari pelecehan seksual di tempat kerja
  4. ruang laktasi
  5. kesetaraan upah

Tanpa keterlibatan perempuan, banyak persoalan tersebut tidak akan menjadi agenda penting dalam perjuangan serikat pekerja.

Perjuangan yang Sering Tak Terlihat

Namun perjuangan perempuan dalam serikat pekerja seringkali lebih berat dibandingkan laki-laki. Mereka tidak hanya menghadapi tekanan dari perusahaan atau konflik hubungan industrial, tetapi juga tantangan sosial yang datang dari budaya patriarki.

Masih ada anggapan bahwa perempuan seharusnya hanya fokus pada urusan domestik. Ketika seorang perempuan aktif dalam organisasi serikat, tidak jarang muncul stigma bahwa ia “terlalu keras”, “terlalu sibuk”, atau bahkan dianggap mengabaikan keluarga.

Padahal kenyataannya, banyak perempuan aktivis serikat pekerja yang justru berjuang untuk kesejahteraan keluarga pekerja. Upah yang layak, jam kerja manusiawi, dan perlindungan kerja bukan hanya berdampak pada pekerja, tetapi juga pada kehidupan keluarga mereka.

Dengan kata lain, perjuangan di ruang serikat pekerja sejatinya juga merupakan perjuangan untuk masa depan keluarga.

Antara Perjuangan dan Kehidupan Keluarga

Tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas organisasi membutuhkan waktu, energi, dan komitmen yang besar. Bagi perempuan pekerja, hal ini sering menimbulkan dilema antara peran sebagai aktivis serikat dan tanggung jawab keluarga.

Namun persoalan tersebut bukan semata-mata masalah perempuan. Ia adalah persoalan pembagian peran sosial dalam keluarga dan masyarakat.

Jika kesetaraan gender benar-benar dipahami, maka perjuangan perempuan dalam organisasi tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi keluarga, melainkan sebagai bagian dari kontribusi sosial yang lebih luas.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar dalam dunia kerja lahir dari keberanian perempuan yang berani bersuara.

Masa Depan Gerakan Serikat Pekerja

Hari Perempuan Internasional bukan hanya tentang merayakan perempuan, tetapi juga tentang memastikan bahwa perempuan memiliki ruang yang setara dalam pengambilan keputusan.

Gerakan serikat pekerja yang kuat di masa depan adalah gerakan yang membuka ruang kepemimpinan bagi perempuan. Bukan sekadar simbol, tetapi sebagai bagian penting dari strategi organisasi.

Karena perempuan pekerja bukan hanya bagian dari gerakan buruh mereka adalah pilar penting yang menjaga keberlanjutan perjuangan tersebut.

Dan mungkin inilah makna paling dalam dari peringatan 8 Maret: bahwa setiap langkah kecil perempuan di tempat kerja, di rumah, dan di organisasi, adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan menuju dunia yang lebih adil. (3zah)