
Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional setiap 1 Mei, kita kembali dihadapkan pada slogan yang sering digaungkan: “Buruh bersatu tak bisa dikalahkan.” Namun realitas di lapangan berkata lain. Buruh belum benar-benar bersatu dan karena itu, buruh masih terus dikalahkan.
Sudah waktunya kita berhenti mengulang slogan defensif yang hanya menggambarkan harapan, tetapi tidak mencerminkan kenyataan. Kita perlu menggeser narasi. Dari sekadar bertahan, menjadi menyerang. Dari menunggu, menjadi bergerak.
“Buruh bersatu dapat mengalahkan.”
Slogan ini bukan sekadar kata-kata. Ini adalah sikap. Ini adalah arah perjuangan.
Selama ini, terlalu banyak energi dihabiskan dalam forum diskusi, seminar, pendidikan, dan aksi seremonial yang pada akhirnya hanya menunjukkan bahwa serikat pekerja masih “eksis”. Namun eksistensi tanpa dampak adalah kehampaan. Sementara itu, di akar rumput, anggota terus tergerus oleh praktik outsourcing, sistem kerja kontrak, magang, hingga harian lepas yang semakin tidak terkendali.
Di mana terobosan nyata dari elit serikat?
Pertanyaan ini tidak bisa terus dihindari.
Ketika buruh di lapangan kehilangan kepastian kerja, kehilangan perlindungan, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap serikatnya sendiri maka yang terjadi bukan hanya degradasi kesejahteraan, tetapi juga degradasi kesadaran kolektif.
Lebih ironis lagi, di tengah kondisi tersebut, justru terjadi fragmentasi gerakan. Alih-alih bersatu, kita melihat lahirnya konfederasi-konfederasi baru. Kebebasan berserikat yang dijamin oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh memang membuka ruang demokrasi. Namun tanpa kesadaran kolektif, kebebasan ini justru dimanfaatkan secara sempit memecah kekuatan, bukan menguatkannya.
Buruh akhirnya mudah dikalahkan. Bukan karena lemah, tetapi karena tercerai-berai.
Masalah utama bukan pada buruh di akar rumput. Justru di sanalah harapan itu masih hidup. Yang menjadi penghambat adalah elit yang enggan bersatu, yang lebih sibuk menjaga posisi daripada memperjuangkan substansi. Lebih parah lagi, ketika persatuan dijadikan kendaraan oportunis untuk kepentingan politik praktis.
Persatuan tanpa kesadaran hanya akan melahirkan alat kekuasaan, bukan alat perjuangan.
Maka, jalan keluar tidak bisa lagi dimulai dari atas. Harus dari bawah.
Dari tempat kerja.
Dari pabrik.
Dari komunitas buruh itu sendiri.
Kita perlu merintis kembali persatuan bukan yang dibentuk oleh kepentingan elit, tetapi yang tumbuh dari kebutuhan nyata buruh. Persatuan yang berangkat dari kesadaran, bukan sekadar struktur organisasi.
Persatuan yang tidak mudah diperalat.
May Day bukan sekadar perayaan. Ini adalah momentum refleksi sekaligus titik balik.
Jika selama ini kita hanya berkata “tidak bisa dikalahkan”, maka sekarang saatnya kita membuktikan bahwa kita bisa mengalahkan ketidakadilan, eksploitasi, dan sistem yang merugikan buruh.
Namun itu hanya mungkin jika persatuan tidak lagi menjadi slogan, melainkan gerakan nyata.
Dimulai dari kita. Dari akar rumput.
Bersatu kita kuat. Berjuang kita menang.



















































































































































































































































