• September 16, 2026
  • Admin Official
  • 0

Jakarta, Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PP FSP KEP SPSI) menggelar Pelatihan Penyusunan Modul Diklat dan Riset Organisasi di Jakarta, pada 16–17 September 2026.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang merupakan perwakilan PUK SP KEP SPSI dari Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang, serta Kabupaten/Kota Bekasi.

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia dan kapasitas organisasi, khususnya dalam pengembangan pendidikan kader, penyusunan modul pelatihan, serta peningkatan kemampuan melakukan riset organisasi.

Selain itu, kegiatan ini diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai Strategic Corporate Research, terutama pemetaan perusahaan sebagai salah satu dasar dalam mempersiapkan strategi perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Didukung DPP KSPSI

Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari DPP KSPSI, termasuk dukungan fasilitas selama pelaksanaan kegiatan.

Dalam laporan kegiatannya, Sulistiyono, S.H., menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan yang semula direncanakan dilaksanakan di kantor PP FSP KEP SPSI kemudian dapat dilaksanakan dengan dukungan fasilitas yang memungkinkan peserta mengikuti kegiatan secara lebih optimal, termasuk fasilitas menginap selama pelatihan.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari sinergi dalam mendorong penguatan pendidikan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan organisasi serikat pekerja.

Sulistiyono juga menyampaikan bahwa hasil pelatihan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan modul pendidikan dan pelatihan yang nantinya dapat digunakan dalam kegiatan pendidikan organisasi.

Sulistiyono: Riset untuk Mendukung PKB

Dalam sambutannya, Sulistiyono menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang dengan fokus pada Strategic Corporate Research, termasuk bagaimana melakukan pemetaan perusahaan dalam konteks mempersiapkan perundingan PKB.

Menurutnya, riset menjadi bagian penting karena organisasi membutuhkan data dan pemetaan yang memadai untuk memahami kondisi perusahaan sebelum memasuki proses perundingan.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara SP KEP FSP SPSI/CEMWU dengan IndustriALL, dengan menghadirkan Brother Yap dari IndustriALL Regional Office for Southeast Asia yang berkantor di Kuala Lumpur sebagai narasumber.

Sulistiyono berharap para peserta tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga memberikan saran dan masukan terhadap modul yang sedang dikembangkan sehingga dapat semakin sesuai dengan kebutuhan organisasi.

R. Abdullah: Perluas Literasi dan Perspektif

Sementara itu, Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, R. Abdullah, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memperluas perspektif dan referensi organisasi melalui kegiatan riset dan pendidikan.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Brother Yap yang telah datang ke Indonesia dan meluangkan waktu selama dua hari untuk berbagi pengetahuan dengan kader dan pengurus SP KEP FSP SPSI.

Menurut R. Abdullah, PKB tidak dapat dipisahkan dari riset, karena dalam proses penyusunannya dibutuhkan data, referensi, pembanding, dan kemampuan membaca kondisi perusahaan.

Selama ini, sebagian referensi organisasi berasal dari internal, baik dari tingkat pusat, daerah maupun cabang. Karena itu, menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk membuka ruang bagi organisasi dalam menambah relasi, literasi, serta perspektif baru.

“Dengan menambah khazanah dalam diri kita, semakin mantap dan semakin memiliki kompetensi untuk berinovasi,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan R. Abdullah.

Pendidikan sebagai Bagian dari Penguatan Organisasi

R. Abdullah juga mengingatkan bahwa peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan merupakan bagian dari agenda penguatan organisasi.

Ia menyebut agenda penguatan organisasi yang meliputi penguatan SDM, advokasi, keuangan organisasi, soliditas dan solidaritas, serta sistem administrasi dan teknologi informasi.

Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi organisasi tidak boleh menghentikan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas kader.

Sebaliknya, pendidikan harus terus berjalan agar organisasi memiliki kader yang mampu melakukan riset, memahami persoalan ketenagakerjaan, membangun argumentasi, dan melakukan perundingan secara efektif.

PKB dan Perjuangan Serikat Pekerja

Dalam kesempatan tersebut, R. Abdullah juga menekankan pentingnya PKB sebagai instrumen perjuangan di tingkat perusahaan.

Menurutnya, perjuangan serikat pekerja tidak hanya berlangsung di tingkat nasional melalui kebijakan dan regulasi, tetapi juga harus dilakukan di tingkat perusahaan melalui perundingan PKB.

Pimpinan Pusat, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang dapat melakukan perjuangan pada tingkat kebijakan. Namun, apabila PUK tidak memperkuat perjuangan melalui PKB, maka perjuangan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan di tingkat perusahaan.

Karena itu, kemampuan melakukan riset, menguasai data, memahami kondisi perusahaan, dan membangun strategi perundingan menjadi semakin penting.

Riset sebagai Kekuatan Organisasi

Pelatihan ini diharapkan dapat membangun keterhubungan antara riset, pendidikan, dan perjuangan organisasi.

Riset tidak hanya dipahami sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai alat untuk memperoleh informasi dan data yang dapat digunakan dalam menentukan strategi organisasi, khususnya dalam menghadapi perundingan PKB.

R. Abdullah menekankan bahwa perjuangan organisasi di tingkat nasional dan perusahaan harus berjalan beriringan. Perjuangan di tingkat nasional merupakan perjuangan di tingkat hulu, sementara perjuangan melalui PKB merupakan perjuangan di tingkat hilir.

Pengetahuan Harus Dibagikan

Menutup sambutannya, R. Abdullah meminta peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan selama dua hari dengan serius dan aktif.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada 20 peserta yang hadir, tetapi dapat dibagikan kepada kawan-kawan di masing-masing PUK dan perangkat organisasi lainnya.

Dengan demikian, pelatihan diharapkan memberikan dampak yang lebih luas terhadap peningkatan kapasitas organisasi.

Kegiatan Pelatihan Penyusunan Modul Diklat dan Riset Organisasi kemudian resmi dibuka oleh Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, R. Abdullah.

Melalui kegiatan ini, PP FSP KEP SPSI mendorong penguatan organisasi berbasis pendidikan, riset, data, dan peningkatan kompetensi kader, dengan dukungan sinergi bersama DPP KSPSI dan jejaring organisasi lainnya.

Pelatihan berlangsung selama dua hari, 16–17 September 2026, dan diharapkan menjadi bagian dari proses berkelanjutan dalam membangun kader serikat pekerja yang memiliki kemampuan riset serta mampu menerjemahkan hasil riset tersebut ke dalam strategi perjuangan dan perundingan PKB.