• September 14, 2026
  • Admin Official
  • 0

Refleksi Seorang Sahabat tentang Persahabatan, Gerakan Buruh dan Perjuangan Jaminan Sosial Indonesia

Oleh : Ridwan Monoarfa

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Rabu, 2 September 2026, saya menerima kabar duka atas berpulangnya sahabat dan saudara seperjuangan, Bung Indra Munazwar.

Kabar itu seketika membawa ingatan saya kembali kepada perjalanan panjang yang pernah kami lalui bersama. Perjalanan yang mempertemukan kami dalam berbagai ruang perjuangan, perdebatan, kegelisahan dan harapan tentang Indonesia yang lebih adil.

Saya tidak ingin mengenang Bung Indra hanya sebagai seorang aktivis buruh yang telah berpulang.
Bagi saya, Indra adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang perjuangan keadilan sosial di Indonesia.
Ia adalah sahabat seperjuangan yang memiliki perpaduan langka: kecerdasan dalam membaca persoalan dan keberanian dalam mengambil sikap.

Indra tidak hanya pandai berbicara tentang ketidakadilan. Ia memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu ketika ketidakadilan itu terjadi.
Ketika melihat rakyat kecil tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya, ketika buruh diperlakukan tidak adil, atau ketika kebijakan negara menjauh dari kepentingan rakyat, ia dapat menunjukkan kemarahannya.

Namun, saya memahami kemarahan itu bukan sebagai kebencian.
Itu adalah kemarahan seorang manusia yang memiliki rasa keadilan yang kuat.
Ia tidak mudah berdamai dengan ketidakadilan.

Perjalanan Panjang Memperjuangkan Jaminan Sosial

Salah satu bagian penting dari perjalanan Bung Indra adalah keterlibatannya dalam perjuangan panjang untuk menghadirkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hari ini, jaminan sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Tetapi kita perlu mengingat bahwa apa yang kita kenal hari ini tidak lahir dengan sendirinya.

Di belakangnya ada sejarah panjang.
Ada gagasan yang diperjuangkan. Ada perdebatan yang melelahkan. Ada advokasi hukum. Ada tekanan masyarakat sipil. Ada aksi massa. Ada keberanian menghadapi kekuasaan.
Dan ada orang-orang yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk memastikan bahwa negara tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya terhadap rakyat.

Bung Indra adalah salah satu bagian dari perjalanan sejarah itu.
Ia termasuk orang yang meyakini bahwa jaminan sosial bukan hadiah pemerintah kepada rakyat.
Jaminan sosial adalah hak rakyat dan bagian dari tanggung jawab negara untuk mewujudkan keadilan sosial.

KAJS dan Perjuangan Jaminan Sosial

Dalam perjalanan perjuangan tersebut, hadir Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS), sebuah koalisi berbagai elemen masyarakat yang memperjuangkan terwujudnya jaminan sosial yang menyeluruh bagi rakyat Indonesia.

KAJS mempertemukan berbagai kekuatan: serikat buruh dan pekerja, petani, nelayan, mahasiswa, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil dan berbagai elemen lainnya.

Gerakan ini menjadi bagian dari perjuangan untuk mendesakkan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional serta lahirnya badan penyelenggara jaminan sosial yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Dalam gerakan itu, setiap tokoh mempunyai peran masing-masing.
Ada yang bekerja melalui kekuatan massa.
Ada yang mengembangkan advokasi hukum.
Ada yang bekerja pada substansi kebijakan.
Ada pula yang memberikan perspektif politik dan membangun dukungan masyarakat.

Di antara mereka, Indra Munazwar mempunyai tempat dan perannya sendiri.
Ia tidak hanya hadir sebagai aktivis, tetapi juga sebagai pemikir gerakan.
Ia ikut mengawal gagasan mengenai jaminan sosial universal dan terlibat dalam perjuangan hukum serta kebijakan yang menyertainya.

Bersama tokoh-tokoh dan aktivis lainnya seperti Chandra Mahlan, Said Iqbal, Muchtar Pakpahan, Surya Tjandra, Yudi Winarno, Timboel Siregar dan banyak pejuang masyarakat sipil lainnya Indra berada dalam satu arus perjuangan: meyakinkan negara bahwa perlindungan sosial bagi rakyat bukan pilihan tambahan, tetapi kewajiban.

Di sinilah saya melihat salah satu arti penting perjalanan Indra.
Ia tidak sekadar menjadi saksi perubahan. Ia ikut berada di dalam proses yang mendorong perubahan itu terjadi.

Indra Munazwar dan Jalan Panjang Sebuah Gagasan

Ada sesuatu yang selalu saya kenang dari Indra.
Ia percaya bahwa perjuangan harus mempunyai gagasan.
Tetapi ia juga tahu bahwa gagasan tanpa keberanian hanya akan berhenti menjadi wacana.
Karena itu, bagi saya, Indra adalah sosok yang mempertemukan pikiran dan tindakan.
Ia berpikir untuk bergerak, dan bergerak berdasarkan apa yang diyakininya.
Dalam bahasa sederhana, ia bukan orang yang hanya ingin menjadi benar dalam diskusi. Ia ingin apa yang diyakininya benar itu mempunyai dampak bagi kehidupan rakyat.
Itulah yang membuat persahabatan dalam perjuangan menjadi berarti.

Kami tidak selalu berada dalam setiap persoalan dengan pandangan yang sama. Tetapi perbedaan tidak menghilangkan rasa hormat.

Sebab persahabatan yang lahir dari perjuangan tidak selalu dibangun oleh kesamaan pendapat.
Ia dibangun oleh kesamaan kepedulian terhadap nasib manusia dan keberanian untuk memperjuangkannya.

Ketika Seorang Sahabat Pergi

Beberapa hari lalu Indra telah pergi.

Ada banyak percakapan yang tidak akan pernah selesai.
Ada gagasan yang tidak lagi dapat kita perdebatkan bersamanya.
Ada persoalan bangsa yang dahulu kita bicarakan, tetapi kini harus kita lanjutkan tanpa kehadirannya.
Di situlah kehilangan terasa.

Tetapi saya tidak ingin membiarkan kenangan tentang Indra berhenti pada kesedihan.
Sebab ada orang yang ketika hidupnya berakhir, yang tertinggal hanya kenangan.
Ada orang yang meninggalkan nama.
Tetapi ada pula orang yang meninggalkan jejak perjuangan.
Indra termasuk yang terakhir.

Jejaknya ada dalam perjalanan gerakan buruh.
Jejaknya ada dalam gerakan masyarakat sipil.
Jejaknya ada dalam perjuangan panjang jaminan sosial Indonesia.
Dan jejak itu juga hidup dalam ingatan sahabat-sahabat yang pernah berjalan bersamanya.

Perjuangan Itu Belum Selesai

Kematian mengakhiri kehidupan seseorang, tetapi tidak selalu mengakhiri gagasannya.
Gagasan akan terus hidup apabila ada generasi yang bersedia merawatnya.
Karena itu, kepergian Bung Indra seharusnya tidak hanya mengajarkan kita tentang kehilangan, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan.

Perjuangan agar buruh dihormati.
Perjuangan agar rakyat mendapatkan perlindungan.
Perjuangan agar jaminan sosial benar-benar menjadi hak seluruh rakyat.
Dan perjuangan agar keadilan sosial tidak berhenti sebagai kalimat indah dalam konstitusi, tetapi hadir dalam kehidupan nyata.
Itulah warisan yang saya kira layak kita teruskan dari Bung Indra.
Bukan sekadar mengingat namanya, tetapi meneruskan nilai yang pernah ia perjuangkan.

Selamat Jalan, Bung Indra

Sahabatku, kawan kita semua,
terima kasih untuk persahabatan yang pernah kita jalani.

Terima kasih untuk perdebatan, gagasan dan kegelisahan yang pernah kita berbagi.
Terima kasih karena dalam satu bagian perjalanan hidup ini, kita pernah berdiri di jalan yang sama: jalan memperjuangkan keadilan sosial dan martabat manusia.

Kini engkau telah menuju alam barzakh.
Kami yang masih berada di dunia akan melanjutkan perjalanan ini.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan amal perjuanganmu, mengampuni segala dosa dan kekhilafanmu, melapangkan kuburmu, menerangi jalanmu menuju keabadian, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat menuju alam barzakh, Bung Indra Munazwar.

Namamu mungkin telah pergi bersama waktu, tetapi jejak perjuanganmu tidak akan mudah hilang.
Sebab perjuangan untuk keadilan sosial tidak pernah selesai hanya karena seorang pejuangnya telah pergi.

Al-Fatihah.