• September 11, 2026
  • Admin Official
  • 0

BEKASI — Kepergian seorang pejuang tidak pernah benar-benar menghapus jejak perjuangannya. Bagi mereka yang pernah berjalan bersama, perjuangan justru meninggalkan ingatan, nilai, dan semangat yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan tahlil dan doa bersama untuk mengenang almarhum Bung Indra Munaswar, yang digelar di halaman DPC KSPSI Bekasi, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 1, Kota Bekasi, Kamis (10/9/2026) malam.

Sekitar 50 orang dari berbagai federasi serikat pekerja yang tergabung dalam Gerakan Kesejahteraan Nasional (Gekanas) hadir dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut.

Bukan sekadar doa, pertemuan itu menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang seorang aktivis buruh yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk perjuangan kaum pekerja.

Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, R. Abdullah, mengenang Indra Munaswar sebagai sosok yang telah menghabiskan sebagian besar usianya untuk perjuangan bersama kaum pekerja.

“Sekitar tiga perempat usianya diabdikan untuk perjuangan bersama kita. Jejak perjuangannya di Bekasi juga begitu jelas.”

Menurut R. Abdullah, kiprah Indra Munaswar tidak dapat dipisahkan dari sejumlah momentum penting dalam perkembangan gerakan buruh di Bekasi. Almarhum disebut turut berperan dalam membangun basis-basis perjuangan dan pembentukan serikat pekerja di sejumlah perusahaan.

Beberapa di antaranya adalah basis BEM, Bakrie, Bakrie Pipe, serta sejumlah PUK lainnya.

Bagi R. Abdullah, penghormatan terhadap Indra Munaswar bukan semata karena hubungan organisasi, tetapi juga karena kedekatan sebagai sahabat dan kawan seperjuangan.

Ia mengenang berbagai pengalaman yang pernah dilalui bersama almarhum, termasuk dalam aktivitas perjuangan maupun kehidupan sehari-hari.

“Saya mengalami banyak hal bersama beliau. Pernah sepiring makan bersama. Beliau adalah orang baik yang telah berjuang dengan ikhlas bersama kita.”

Keluarga: Perjuangan yang Harus Diteruskan

Kegiatan tersebut juga dihadiri putra almarhum, Pizky Febriansyah Amrullah, yang hadir mewakili keluarga.

Pizky menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian serta penghormatan yang diberikan para sahabat dan rekan-rekan seperjuangan kepada ayahnya.

Ia mengaku tidak menyangka keluarganya akan diundang dalam kegiatan yang secara khusus mengenang perjalanan perjuangan sang ayah.

Menurut Pizky, selama hidupnya Indra Munaswar memang tidak pernah jauh dari aktivitas perjuangan buruh.

Ia menggambarkan sang ayah sebagai sosok yang tidak mudah menyerah, tidak mengenal lelah, dan tidak terbiasa mengeluhkan persoalan yang dihadapi.

“Perjalanan beliau adalah perjalanan yang indah. Beliau tidak pernah mengenal lelah dan tidak mengeluh dalam kehidupannya.”

Yang menarik, perjuangan Indra Munaswar kini tidak berhenti pada kenangan keluarga. Sang putra justru memilih untuk meneruskan jalan perjuangan yang telah ditempuh ayahnya.

Pizky mengungkapkan bahwa dirinya kini turut aktif dalam gerakan serikat pekerja dan dipercaya sebagai Ketua PUK di Kawasaki.

“Saya juga terjun dan turut andil untuk meneruskan perjuangan Bapak. Saat ini saya menjadi Ketua PUK di Kawasaki. Saya akan meneruskan perjuangan beliau.”

Ia berharap seluruh perjuangan yang pernah dilakukan ayahnya dapat memberikan manfaat bagi banyak orang dan menjadi amal yang terus mengalir.

Tahlil, Doa, dan Kesaksian Para Sahabat

Setelah penyampaian dari pihak keluarga, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, tahmid, dan doa yang dipimpin oleh Saepul Anwar.

Suasana berlangsung khidmat. Para peserta bersama-sama memanjatkan doa untuk almarhum sekaligus mengenang pengabdian yang telah diberikan selama hidupnya.

Setelah doa bersama, sejumlah sahabat almarhum turut menyampaikan kesan dan pesan mengenai sosok Indra Munaswar serta perjalanan panjangnya dalam gerakan buruh.

Salah satunya adalah Chandra Mahlan, yang menceritakan awal perkenalannya dengan almarhum hingga keterlibatan Indra Munaswar dalam berbagai dinamika gerakan buruh di Indonesia.

Berbagai kesaksian tersebut menggambarkan sosok Indra Munaswar sebagai figur yang konsisten berada dalam perjuangan pekerja, membangun jaringan, serta ikut mendorong tumbuhnya organisasi serikat pekerja di berbagai tempat.

R. Abdullah kembali menegaskan bahwa jejak perjuangan almarhum di Bekasi bukan hanya terlihat dalam aktivitas advokasi, tetapi juga dalam proses pembentukan sejumlah organisasi serikat pekerja.

Ia menyebut PUK Bakrie dan PUK Benang Emas Murni, serta sejumlah PUK lainnya, sebagai bagian dari jejak organisasi yang tidak terlepas dari kiprah almarhum.

Lebih jauh, R. Abdullah juga mengenang gagasan-gagasan Indra Munaswar yang menurutnya tidak hanya berbicara mengenai kepentingan pekerja, tetapi juga menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Salah satunya terkait gagasan mengenai fasilitas kesehatan gratis yang kini menjadi bagian dari layanan yang dapat dinikmati masyarakat.

Ia juga menyinggung pemikiran almarhum mengenai nomenklatur serta arah pembentukan regulasi ketenagakerjaan sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan buruh.

Warisan Perjuangan

Kepergian Indra Munaswar meninggalkan ruang kosong bagi keluarga, sahabat, dan gerakan buruh. Namun, bagi para pejuang yang pernah berjalan bersamanya, perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena seorang tokoh telah tiada.

Justru dari sanalah tanggung jawab generasi berikutnya dimulai.

Nilai keberanian, solidaritas, ketekunan, dan pengabdian yang ditinggalkan almarhum menjadi warisan yang harus dijaga dan diteruskan.

Kegiatan tahlil dan doa bersama di Bekasi pun menjadi lebih dari sekadar ritual mengenang seorang sahabat. Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif gerakan buruh, mempererat kebersamaan antarfederasi, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan untuk kesejahteraan pekerja adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesinambungan antargenerasi.

Bung Indra Munaswar mungkin telah pergi. Namun jejak yang ditinggalkannya tetap hidup dalam organisasi, dalam ingatan para sahabat, dan terutama dalam perjuangan generasi buruh yang memilih untuk melanjutkan jalan yang telah dirintisnya.

Selamat jalan, Bung Indra Munaswar.

Perjuanganmu tidak berhenti. Ia akan terus hidup dalam ingatan dan diteruskan oleh mereka yang percaya bahwa kesejahteraan, keadilan, dan martabat pekerja harus terus diperjuangkan.

Kontributor: Her — spsibekasi.org